Senin, 05 November 2012

ARTI CINTA

Cinta adalah misteri, karena ia terselubung di dalam jiwa.

terpendam dalam sebuah keindahan yang mampu menebar wangi di setiap musim semi

namun juga terendap seonggok pedih, yang dapat membunuh setiap sisi kehidupan

itulah cinta yang dapat membuat makhluk adam bertekuk lutut kepada sang hawa karena keanggunannya

karena kekuatan cinta yang hanya dapat dirasakan saat labirin kesunyian menerpa kehidupan

saat kehampaan jiwa merasuki dan menggerogoti sisi kehidupan abadi

saat hati seakan tandus dan haus akan gemericik sentuhan cinta

sadarkah kita bahwa sejak kita dilahirkan di muka bomi kita telah merasakan berjuta cinta

halus lembut tangan sang ibu menyentuh mesra, membisikkan seribu kata-kata penuh cinta

hingga kita tersenyum dan tertawa lucu dalam dekapan cinta sang ibu

dan menangis dalam belaian cinta seorang bunda

hingga membawa kita dewasa dan mengenal cinta yang sesungguhnya

yang keluar dari kemurnian perasaan seorang makhluk Tuhan

yang tak pernah dipaksa dan tak pernah memaksa

seakan rasa itu begitu alami mengendap dalam hati secara perlahan,

rasa yang selalu bergetar saat sunyi, dan selalu berteriak melebihi keramaian yang ada

rasa rindu yang muncul saat siang merindukan mataharii di ufuk timur dan barat

rasa yang selalu ada dan terasa,

menumbuhkan sayap kecil dalam perjalanan, yang akan terus tumbuh menjadi sayap yang lebar

yang siap membawamu terbang dan  rasa yang jauh tertinggal,

hingga akhirnya tanpa disadari, sayap itu pasti akan terluka dalam setiap perjalanan manusia

sayap yang terengkuh menjemput rasa, tak selamanya akan sempurna

luka kecil, luka besar, bahkan terhempas pasti akan terlalui

karena cinta adalah perjalanan, cinta adalah pengobat sayapmu

cinta pula yang merobek sayap-sayap itu

cinta adalah racun dan penawar, seperti dua sisi kehidupan yang tak akan pernah tertukar

saat sayapmu hamcur, bukan berarti akhir dari perjalanan cinta

saat sayapmu terkulai, tak berarti kau tak bisa terbang lagi

saat sayapmu teriris, bukan berarti kau sendirian menikmati kesakitannya

karena cinta adalah fatamorgana

cinta juga yang akan menjemputmu dan mengobati semua lukamu

yang akan menjahit sayapmu, dengan benang kesabaran dan ketulusan

hingga mampu terkepak lagi, melanjutkan perjalanan yang masih panjang

dan melupakan pisau yang telah mengirisnya di masa lampau

hingga ia tersenyum dengan sang penyelamat yang tidak lain adalah cinta itu sendiri

hingga terbuai dengan keindahan bunga-bunga di sepanjang jalanmu

namun cinta pula yang membuatmu terlena

cinta pula yang membuatmu buta, dan tak tersadar bahwasanya belati-belati itu masih mengancam di perjalananmu

hingga sayap yang telah terjahit akan tercabik kembali, hingga penyesalan lah yang akan ada

cinta melenakanmu, cinta membuat bangga perjalananmu dan membuat menyesali setiap jalanmu

semua bagaikan roda dunia yang tak pernah berhenti berputar

hingga datang lagi cinta sebagai sang penyelamat baru dan melupakan belati yang telah menghempaskanmu

Lalu apa yang dicari dari cinta? akankah cinta selalu menghempaskan namun cinta juga selalu menolong?

tak adakah perjalanan yang sempurna, tanpa terhempas dan terluka?

tak akan pernah ada yang sempurna selama kau masih menjadi manusia

tak akan pernah ada cinta sejati selama masih mampu membutakan dan menyakiti

cinta sejati adalah cinta berperisai yang tak pernah menolong

namun selalu melindungi sayapmu dari belati-belati yang masih akan menusuk di sepanjang perjalananmu

hingga kau temukan indahnya di ujung perjalanan cintamu

ibarat cinta yang bunda berikan adalah keindahan matahari menampakkan dirinya di ufuk timur

hingga masa perjalanan dengan penuh luka saat matahari begitu menyengat dan membakar sayapmu di kala siang

dan berujung indah saat kedamaian senja di ufuk barat

semua adalah perjalanan

dan cinta adalah perjalanan

rasakan dan nikmatilah setiap luka yang ia berikan

karena itu adalah perjalanan hingga cinta sejati benar-benar kau temukan

Sumber : devamelodica.com


Sabtu, 03 November 2012

Puisi Cinta :: Penantian Cinta

saat mentari tak lagi menampakkan sinarnya
ketika sang surya tergantikan oleh sinar bulan
disini aku masih menunggumu
menunggu dirimu yang tak pasti kapan akan kembali

diri ini tak mampu lagi menahan
gejolak kerinduan padamu
kasih..... kembalilah
bawalah sejuta cintamu untukku

berikan ku cinta putihmu
berikan aku tulus kasihmu
aku menginginkan kamu dulu
yang tulus mencintaiku

kepergianmu menghancurkan hatiku
meninggalkan goresan-goresan luka dalam hatiku
kasih..... kembalilah
aku masih menunggumu disini
saat ini, esok, dan selamanya...

Sumber : idbagus.com

Tuhan, Aku Lelah

Terkadang aku menjadi begitu lelah,
terutama dalam menata hati.
Ada banyak bagian yang begitu susah kumengerti,
entah bagaimana Tuhan menjadikannya hingga begitu rumit untuk kupahami.

Bukan hanya perasaan cinta yang harus kutahan agar tak menggebu,
atau perasaan sedih yang harus ku urai agar tak menyepi
aku dalam lubang hitam pekat tak bermassa. ke
Banyak hal yang masih tak kumengerti tentang rasa,
tentang emosi, dan tentang jiwa.
Waktu dua puluh tahun belum cukup bagiku memetakan sifat-sifat dasar manusia.

Lelah, aku begitu lelah.
Ingin berbaring sejenak untuk melepas penat, namun rasanya akan sangat sulit.
Berbaring hibernasi puluhan abad pun tetap tak akan mampu mengangkat rasa letih ini.
Rasa yang begitu membuatku menghela nafas panjang. Aku capek!

Tuhan, aku lelah.
Aku merasa Engkau mengerti, namun mengapa terus menunda mencabut akar jiwa ini?
Tugas apalagi yang belum tuntas?

Aku bukan nabi-Mu, aku juga bukan rasul-Mu,
dan aku bukan pula iblis-Mu yang kau tugaskan menggoda manusia.
Tak ada tugasku untuk menggiring manusia kepada kehendak-Mu,
dan engkau juga tak pula menjadikan aku iblis agar menyesatkan manusia.
Jika memang demikian, mengapa terlalu lama engkau memberi aku tempat di dunia?

Apa statusku? Tuhan, sungguh aku kelelahan.

Engkau tahu kan, kadang sukapku seperti malaikat.
Namun tak jarang aku menunjukkan wajah iblis dan setan-setan yang kau kutuk itu.
Aku berikan efek dualisme kepada manusia agar mereka mengerti,
apapun wajahku adalah tetap aku.
Agar mereka mengerti bahwa pemilik segala kegelapan dan cahaya terang benderang adalah Engkau.
Agar mereka mengerti, butuh cahaya untuk berjalan dalam jalan gelap menuju-Mu.

Tuhan, aku merasa Engkau terlalu banyak diam terutama terhadapku.
Marahkah Engkau?
Tidak inginkah Engkau menjadikan aku seperti dahulu,
kita saling tertawa saling curhat-curhatan.

Aku curhat tentang masalahku dan Engkau tentang tugas-Mu.
Kau selalu membimbingku selaku layaknya guru, hingga hidup pun terdiam tak memiliki ruang untuk cemburu.
Aku menyebut nama-Mu seribu kali dan Engkau pun bernyanyi dengan namaku sejuta kali.
Sungguh indah, namun itu dulu.

Aku tak mengerti, sejak kapan Engkau mulai diam terhadapku.

Tuhan, sumpah aku teramat lelah.

Berbicaralah, jangan terus diam.
Berikan aku petunjuk atau hatiku telah terlalu hitam hingga suara-Mu yang keras mengguntur sama sekali tak kudengarkan?!
Atau sudah terlalu tulikah aku?

Tak Engkau gubris air mataku yang terus mengucur dimalam-malamku?
Namun terhadap manusia aku tetap tertawa, tersenyum seolah tak ada yang terluka.
Padahal sejatinya aku sedang sekarat dan jiwaku yang kehausan amat begitu letih.
Menunggu mati.

Tuhan, Engkau tahu apa yang paling kutakutkan?
Jika aku bertemu dengan-Mu tanpa perasaan cinta.
Aku takut jika bertemu dengan-Mu kelak yang ada hanyalah perasaan takut.
Sungguh jangan seperti itu.
Berikan aku rasa cinta kepada-Mu lebih luas dari dunia dan segala isinya.
Agar tak letih aku menunggu kapan Engkau cabut akar jiwa ini.

Tuhan, aku ingin mencium-Mu untuk yang kesekian kali.
Sungguh rindu ini memuncak, memberi rasa letih dan harapan cemas,
kapan kita akan saling bercinta.

Tuhan, aku menungu... dalam letih.

Tuhan, jangan terlalu lama.
Sungguh aku teramat lelah.

Sumber : budiarto.org