Ini
perempatan yang pernah membuatku misuh dahulu. Bukan mengumpati
kemacetannya, melainkan mengumpati diriku sendiri. Kedongkolan hatiku di
tengah hujan deras tanpa mantel hujan, sambil tikang-tikung menyelinap barisan mobil-mobil
mewah yang merayap pelan, kulihat lelaki paruh baya sedang bersusah
payah menarik gerobak sampah di ujung jalan. Benar-benar membuatku
misuhi diriku sendiri, “Asu!”
Kalau kau pernah lewat perempatan Brimob Baciro, kau pasti memperhatikan orang-orang ini. Minimal,
melihat mereka. Di sana kau lihat seorang nenek tua yang menggelar
dagangannya berupa sapu lidi sederhana di trotoar Jalan Kompol Suprapto,
ada juga seorang lelaki paruh baya pengidap polio yang stand-by di
lampu lalu lintas berjualan koran.
Tampilkan postingan dengan label Nuansa Qolbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nuansa Qolbu. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Maret 2014
Jumat, 23 Agustus 2013
Apa berhak kita sombong??
Sifat sombong merupakan salah satu
sifat yang mesti dihindari oleh manusia. Banyak alasan mengapa sifat
sombong mesti kita hindari, namun PENYEBAB UTAMA adalah karena hanya
ALLOH SWT YANG BERHAK SOMBONG, sebagaimana yang telah tersebut pada
salah satu Asmaul Husna, Al Mutakabbir. Tidak heran DIA SANGAT MEMBENCI
makhluk-Nya yang mempunyai sifat sombong, karena itu berarti sang
makhluk berniat menyamai-Nya.
Kita sudah mendengar cerita penolakan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam as, hanya karena Iblis menganggap dirinya, yang terbuat dari api, lebih mulia dari Nabi Adam as, yang terbuat dari tanah. ALLOH SWT serta merta murka dan langsung mengusir Iblis dari surga. Padahal sebelumnya, Iblis merupakan salah satu makhluk-Nya yang setia dan taat pada-Nya.
Cerita ini bisa kita baca di:Al Baqarah(2):34, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
Al A’raaf(7):11-13, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. — Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. — Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.”
Al Hijr(15):30-35, “Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, — kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. — Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” — Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. — Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, — dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”.”
Al Israa(17):61,“Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”“
Al Kahfi(18):50, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim.”
Thahaa(20):116,“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.”
Shaad(38):73-78,“Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya. — kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. — Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. — Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. — Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, — sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”.”
Kisah lain bisa dibaca sebagai berikut:
Suatu hari, ALLOH SWT berfirman kepada Nabi Musa as, “Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia.”
Nabi Musa as lalu pergi ke jalan, pasar, dan tempat-tempat ibadah. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, “Aku lebih baik dari dia.”
Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, “Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia.” Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.
Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan ALLOH SWT, Tuhan bertanya, “Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa?”
Nabi Musa menjawab, “Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya.”
Tuhan lalu berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian.”
Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita Nabi Musa as?
Ternyata, Nabi dan Rasul sekalipun DILARANG SOMBONG! Bahkan terbetik pikiran bahwa dirinya lebih baik dari makhluk/manusia lain juga dilarang. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa seorang Nabi akan berpikir, ”Sayalah lebih hebat dari pemilik blog ini, karena saya adalah Nabi sedangkan pemilik blog ini tidak jelas ibadahnya..”
Namun, dasar Iblis laknatullah, dia akan berusaha mencari cara untuk membuat manusia menemani dirinya di neraka kelak. Sombong, sebagai sifat dasar Iblis, merupakan salah satu godaan yang terus menerus ditembakkan kepada kita. Hebatnya Iblis, kita seringkali tidak merasakan tembakan sifat sombong yang dilakukan Iblis.
Beberapa metode Iblis menembakkan sifat sombong kepada kita adalah dengan cara (penomoran tidak ada kaitannya dengan prioritas):
1. Ilmu pengetahuan (kepintaran)
Sudah banyak contoh orang2 yang lebih pintar dan lebih banyak ilmunya merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Tidak perlu jauh-jauh, tanyakan pada diri anda. Ketika anda mengetahui bahwa diri anda bisa menyelesaikan suatu masalah sementara rekan kerja anda tidak bisa, coba rasakan dan ingat-ingat kembali, apakah muncul pernyataan, ”Eh, saya lebih hebat dari si Fulan, karena saya bisa menyelesaikan masalah ini. Masa kaya gini saja tidak bisa? Ini kan gampang?” atau sejenisnya?
Jika (pernah) terbersit, itu artinya Iblis telah sukses menembakkan bibit2 sombong pada anda.
2. Harta benda
Kelebihan harta adalah salah satu metode Iblis untuk membangkitkan rasa sombong pada diri manusia. Orang kaya akan memandang rendah pada orang2 yg miskin (tidak seberuntung dia). Contoh paling mudahnya adalah Qarun. Bagaimana dia menumpuk2 harta dan bisa memerintah orang lain sesuka dia dengan hartanya yg berlimpah ruah.
Contoh lainnya bisa dilihat pada diri kita. Jika kita menggunakan mobil, apakah kita pernah menganggap rendah orang2 yg hanya mempunyai sepeda motor? Jika kita memiliki sepeda motor, apakah kita mengabaikan para pejalan kaki?
Jika (pernah) melakukannya, itu artinya Iblis telah sukses menembakkan bibit2 sombong pada anda.
3. Anak dan Istri (Bagi seorang suami)
Anak dan istri bisa menjadi cara seseorang untuk sombong. Padahal kedua hal ini merupakan amanah yang semestinya diterima dan dijaga dengan baik agar tidak melenceng dari tujuan ALLOH SWT memberi, yakni sebagai ladang amal untuk mendapat ridho-Nya.
Contoh dari poin ini, seringkali seorang bapak/ibu membanggakan anaknya (dengan berlebihan). “Eh, anak saya rangking 1 terus lho. Saya heran, kok dia pinter banget…padahal saya dan istri biasa saja memberi makannya.” atau “Anak saya semuanya kuliah di luar negeri, soalnya kualitas pendidikan di dalam negeri tidak memadai untuk otak anak2 saya.”
Bahkan dengan berpikir atau memamerkan anaknya kepada pasangan suami istri yang belum mempunyai anak, bisa menjadi cara Iblis untuk membangkitkan rasa sombong.
Dengan memanfaatkan amanah yg diberikan ALLOH SWT, Iblis telah sukses menembakkan bibit2 sombong pada anda. Walhasil, anak dan istri anda malah akan menyeret anda ke neraka.
4. Pangkat dan kedudukan
Poin 4 ini merupakan salah satu pintu yang diincar Iblis untuk menyeret manusia ke dalam jurang neraka. Pangkat boss atau kepala cabang atau kepala departemen biasanya membuat orang bisa meremehkan dan menganggap rendah orang lain. Gelar kebangsawanan ataupun lokasi tempat tinggal sekalipun bisa menjadi pemantik timbulnya rasa sombong.
Padahal gelar bangsawan, pangkat boss ataupun lokasi rumah bukanlah jaminan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Semuanya adalah amanah dari ALLOH SWT yang semestinya digunakan untuk kebaikan.
Untuk itu, kita mesti waspada terhadap pintu2 kesombongan ini.1. Sebelum tidur, lakukan muhasabah. Cek tiap tindakan kita hari ini, apakah ada sikap dan perbuatan kita yg menyerempet (atau malah sudah melakukan) sifat sombong ini?2. Jika ada, maka banyaklah beristighfar kepada ALLOH SWT. Minta ampun pada-Nya serta banyaklah berdoa agar kita bisa terhindar dari sifat sombong ini.3. Apabila tindakan sombong ini kita lakukan pada rekan kerja ataupun pada bawahan kita, maka minta maaflah esok harinya. Tidak perlu menunggu Ramadhan atau Lebaran setahun lagi untuk meminta maaf, takutnya anda keburu mati.
Sumber: http://nuansaqolbu.blogspot.com
Kita sudah mendengar cerita penolakan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam as, hanya karena Iblis menganggap dirinya, yang terbuat dari api, lebih mulia dari Nabi Adam as, yang terbuat dari tanah. ALLOH SWT serta merta murka dan langsung mengusir Iblis dari surga. Padahal sebelumnya, Iblis merupakan salah satu makhluk-Nya yang setia dan taat pada-Nya.
Cerita ini bisa kita baca di:Al Baqarah(2):34, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
Al A’raaf(7):11-13, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. — Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. — Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.”
Al Hijr(15):30-35, “Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, — kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. — Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” — Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. — Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, — dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”.”
Al Israa(17):61,“Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”“
Al Kahfi(18):50, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim.”
Thahaa(20):116,“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.”
Shaad(38):73-78,“Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya. — kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. — Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. — Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. — Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, — sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”.”
Kisah lain bisa dibaca sebagai berikut:
Suatu hari, ALLOH SWT berfirman kepada Nabi Musa as, “Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia.”
Nabi Musa as lalu pergi ke jalan, pasar, dan tempat-tempat ibadah. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, “Aku lebih baik dari dia.”
Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, “Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia.” Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.
Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan ALLOH SWT, Tuhan bertanya, “Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa?”
Nabi Musa menjawab, “Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya.”
Tuhan lalu berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian.”
Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita Nabi Musa as?
Ternyata, Nabi dan Rasul sekalipun DILARANG SOMBONG! Bahkan terbetik pikiran bahwa dirinya lebih baik dari makhluk/manusia lain juga dilarang. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa seorang Nabi akan berpikir, ”Sayalah lebih hebat dari pemilik blog ini, karena saya adalah Nabi sedangkan pemilik blog ini tidak jelas ibadahnya..”
Namun, dasar Iblis laknatullah, dia akan berusaha mencari cara untuk membuat manusia menemani dirinya di neraka kelak. Sombong, sebagai sifat dasar Iblis, merupakan salah satu godaan yang terus menerus ditembakkan kepada kita. Hebatnya Iblis, kita seringkali tidak merasakan tembakan sifat sombong yang dilakukan Iblis.
Beberapa metode Iblis menembakkan sifat sombong kepada kita adalah dengan cara (penomoran tidak ada kaitannya dengan prioritas):
1. Ilmu pengetahuan (kepintaran)
Sudah banyak contoh orang2 yang lebih pintar dan lebih banyak ilmunya merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Tidak perlu jauh-jauh, tanyakan pada diri anda. Ketika anda mengetahui bahwa diri anda bisa menyelesaikan suatu masalah sementara rekan kerja anda tidak bisa, coba rasakan dan ingat-ingat kembali, apakah muncul pernyataan, ”Eh, saya lebih hebat dari si Fulan, karena saya bisa menyelesaikan masalah ini. Masa kaya gini saja tidak bisa? Ini kan gampang?” atau sejenisnya?
Jika (pernah) terbersit, itu artinya Iblis telah sukses menembakkan bibit2 sombong pada anda.
2. Harta benda
Kelebihan harta adalah salah satu metode Iblis untuk membangkitkan rasa sombong pada diri manusia. Orang kaya akan memandang rendah pada orang2 yg miskin (tidak seberuntung dia). Contoh paling mudahnya adalah Qarun. Bagaimana dia menumpuk2 harta dan bisa memerintah orang lain sesuka dia dengan hartanya yg berlimpah ruah.
Contoh lainnya bisa dilihat pada diri kita. Jika kita menggunakan mobil, apakah kita pernah menganggap rendah orang2 yg hanya mempunyai sepeda motor? Jika kita memiliki sepeda motor, apakah kita mengabaikan para pejalan kaki?
Jika (pernah) melakukannya, itu artinya Iblis telah sukses menembakkan bibit2 sombong pada anda.
3. Anak dan Istri (Bagi seorang suami)
Anak dan istri bisa menjadi cara seseorang untuk sombong. Padahal kedua hal ini merupakan amanah yang semestinya diterima dan dijaga dengan baik agar tidak melenceng dari tujuan ALLOH SWT memberi, yakni sebagai ladang amal untuk mendapat ridho-Nya.
Contoh dari poin ini, seringkali seorang bapak/ibu membanggakan anaknya (dengan berlebihan). “Eh, anak saya rangking 1 terus lho. Saya heran, kok dia pinter banget…padahal saya dan istri biasa saja memberi makannya.” atau “Anak saya semuanya kuliah di luar negeri, soalnya kualitas pendidikan di dalam negeri tidak memadai untuk otak anak2 saya.”
Bahkan dengan berpikir atau memamerkan anaknya kepada pasangan suami istri yang belum mempunyai anak, bisa menjadi cara Iblis untuk membangkitkan rasa sombong.
Dengan memanfaatkan amanah yg diberikan ALLOH SWT, Iblis telah sukses menembakkan bibit2 sombong pada anda. Walhasil, anak dan istri anda malah akan menyeret anda ke neraka.
4. Pangkat dan kedudukan
Poin 4 ini merupakan salah satu pintu yang diincar Iblis untuk menyeret manusia ke dalam jurang neraka. Pangkat boss atau kepala cabang atau kepala departemen biasanya membuat orang bisa meremehkan dan menganggap rendah orang lain. Gelar kebangsawanan ataupun lokasi tempat tinggal sekalipun bisa menjadi pemantik timbulnya rasa sombong.
Padahal gelar bangsawan, pangkat boss ataupun lokasi rumah bukanlah jaminan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Semuanya adalah amanah dari ALLOH SWT yang semestinya digunakan untuk kebaikan.
Untuk itu, kita mesti waspada terhadap pintu2 kesombongan ini.1. Sebelum tidur, lakukan muhasabah. Cek tiap tindakan kita hari ini, apakah ada sikap dan perbuatan kita yg menyerempet (atau malah sudah melakukan) sifat sombong ini?2. Jika ada, maka banyaklah beristighfar kepada ALLOH SWT. Minta ampun pada-Nya serta banyaklah berdoa agar kita bisa terhindar dari sifat sombong ini.3. Apabila tindakan sombong ini kita lakukan pada rekan kerja ataupun pada bawahan kita, maka minta maaflah esok harinya. Tidak perlu menunggu Ramadhan atau Lebaran setahun lagi untuk meminta maaf, takutnya anda keburu mati.
Sumber: http://nuansaqolbu.blogspot.com
Minggu, 07 April 2013
"HAKIKAT KEBAHAGIAAN"
Didunia ini tak ada alat yang bisa membuat kita bahagia.
Sesungguhnya kebahagiaan itu berasal dari dalam diri kita masing2.
Kebahagiaan itu sebenarnya ada dimana-mana.
Kita sendiri saja yang tak menyadarinya/merasakan kehadirannya.
Kebahagiaan itu bukanlah seperti sebuah benda.
Yang bisa kamu pegang atau kamu simpan didalam lemari.
Kebahagiaan itu akan selalu hadir dalam kehidupanmu.
Tinggal kamu sadari, rasakan & nikmatilah dengan hati damai.
#Selamat merasakan kebahagianmu saat ini. :-)
Sumber : http://danikaizen.blogspot.com
Minggu, 16 Desember 2012
Hakikat Kebahagiaan
Kebahagiaa bukan saat kita memiliki sesuatu, tapi kebahagiaan itu terletak pada saat proses kita mendapatkan sesuatu. Hidup hanyalah sebuah proses, semua akan datang silih berganti, sedih, bahagia, suka dan duka adalah hal yang sama. Kesedihan bisa berganti bahagia dan bahagia bisa berganti sedih. Tergantung kita menyikapinya, andai kita menghadapi sebuah musibah yang mungkin menurut orang lain itu sebuah kesedihan sementara kita merasa itu sebuah kebahagiaan karena kita melihatnya dari kacamata iman memang itulah kebahagiaan.
Dalam hidup kita akan menemui banyak hal, kadang kita mencintai seseorang, atau bahkan dicintai seseorang. Kita harus menyadari bahwa Mencintai dan Keinginan untuk memiliki adalah dua hal yang berbeda. Cinta bisa menjadi indah apabila kita menempatkan pada orang yang tepat dan akan menjadi musibah jika kita memaksakan untuk memiliki. Yang indah adalah di mana kita mencintai sekaligus dicintai. Mungkin butuh waktu... tapi yakinlah jika kita sabar... sabar... dan sabar semua akan indah pada waktunya.
Diwaktu menangis kita memejamkan mata, disaat tertawa kita kadang memejamkan mata. Jika kita disuruh membayangkan sesuatu pasti orang akan bilang "pejamkan mata anda!" saat kita tidur dan bermimpi pun mata kita terpejam, kenapa??? bahwa sesuatu yang indah itu tidak terlihat.
Jadi dibalik sesuatu kejadian pasti ada hikmah cuma kadang kita tidak bisa melihat hikmah itu. Jika kita tahu dan sudah melihat hikmah itu maka baru kita merasa bahwa sesuatu itu akan indah pada waktunya.
Allah tidak pernah menciptakan sesuatu kejadian dengan sia-sia. Jika kita sabar dan ikhlas menerima semua itu pasti kita akan diberi yang terbaik. Terbaik dimata manusia belum tentu terbaik dimata Allah. Ya Allah urzuqnal ikhlas walistiqomah.
Sumber : budairi.com
Dalam hidup kita akan menemui banyak hal, kadang kita mencintai seseorang, atau bahkan dicintai seseorang. Kita harus menyadari bahwa Mencintai dan Keinginan untuk memiliki adalah dua hal yang berbeda. Cinta bisa menjadi indah apabila kita menempatkan pada orang yang tepat dan akan menjadi musibah jika kita memaksakan untuk memiliki. Yang indah adalah di mana kita mencintai sekaligus dicintai. Mungkin butuh waktu... tapi yakinlah jika kita sabar... sabar... dan sabar semua akan indah pada waktunya.
Diwaktu menangis kita memejamkan mata, disaat tertawa kita kadang memejamkan mata. Jika kita disuruh membayangkan sesuatu pasti orang akan bilang "pejamkan mata anda!" saat kita tidur dan bermimpi pun mata kita terpejam, kenapa??? bahwa sesuatu yang indah itu tidak terlihat.
Jadi dibalik sesuatu kejadian pasti ada hikmah cuma kadang kita tidak bisa melihat hikmah itu. Jika kita tahu dan sudah melihat hikmah itu maka baru kita merasa bahwa sesuatu itu akan indah pada waktunya.
Allah tidak pernah menciptakan sesuatu kejadian dengan sia-sia. Jika kita sabar dan ikhlas menerima semua itu pasti kita akan diberi yang terbaik. Terbaik dimata manusia belum tentu terbaik dimata Allah. Ya Allah urzuqnal ikhlas walistiqomah.
Sumber : budairi.com
Hakikat Kebahagiaan
Ketika aku ingin KAYA
aku lupa bahwa HIDUP adalah KEKAYAAN
Ketika aku takut MEMBERI,
aku lupa bahwa semua yang kumiliki adalah PEMBERIAN
Ketika aku ingin menjadi yang TERKUAT,
aku lupa bahwa di dalam KELEMAHAN, Allah selalu memberikan aku KEKUATAN
Ketika aku takut RUGI,
aku lupa bahwa hidupku adalah KEBERUNTUNGAN
karena bisa terlahir sebagai manusia yang dapat mengenal ALLAH
Ternyata hidup ini sangat indah
jika kita selalu "BERSYUKUR" dengan apa yang sudah ada pada kita,
selalulah senang dan suka berbuat BAIK
Jangan pernah berkata, "ESOK" 'kan masih ada waktu...",
karena setiap saat jarum jam itu dapat berhenti,
begitu pula dengan kehidupan...
Ada kalanya yang terindah bukanlah yang "TERBAIK"
Yang SEMPURNA belum tentu menjanjikan KEBAHAGIAAN...
Tetapi ketika kita mampu dan mau MENERIMA semua KEKURANGAN & KELEBIHAN...
Itulah KEBAHAGIAAN.
Bahagia itu dari dalam diri. Kesannya zahir rupanya maknawi. Terpendam bagai permata di dasar hati. Bahagia itu ada pada hati kita. Bertahta di kerajaan diri. Terbenam bagai mutiara di lautan nurani.
Bagahia itu ada di jiwa. Mahkota di singgasana rasa. Bahagia itu adalah suatu ketenangan.
Bila susah tiada gelisah. Bila miskin syukur pada Tuhan. Bila sakit tiada resah di jiwa.
Bukankah Tuhan telah berfirman. Ketahuilah dengan mengingati Allah. Jiwa kan menjadi tenang.
Kebahagiaan itu suatu kesyukuran. Bila kaya jadi insan pemurah. Bila berkuasa amanah. Bila berjaya tidak alpa. Bila sehat tidak lupakan Tuhan.
Hakikatnya bahagia itu. Adalah ketenangan. Bila hati mengingati Tuhan.
Semua insan kan mengerti. Maksud terseni Ilahi. Itulah zikir yang hakiki.
Sumber : liaa.blog.uns.ac.id
aku lupa bahwa HIDUP adalah KEKAYAAN
Ketika aku takut MEMBERI,
aku lupa bahwa semua yang kumiliki adalah PEMBERIAN
Ketika aku ingin menjadi yang TERKUAT,
aku lupa bahwa di dalam KELEMAHAN, Allah selalu memberikan aku KEKUATAN
Ketika aku takut RUGI,
aku lupa bahwa hidupku adalah KEBERUNTUNGAN
karena bisa terlahir sebagai manusia yang dapat mengenal ALLAH
Ternyata hidup ini sangat indah
jika kita selalu "BERSYUKUR" dengan apa yang sudah ada pada kita,
selalulah senang dan suka berbuat BAIK
Jangan pernah berkata, "ESOK" 'kan masih ada waktu...",
karena setiap saat jarum jam itu dapat berhenti,
begitu pula dengan kehidupan...
Ada kalanya yang terindah bukanlah yang "TERBAIK"
Yang SEMPURNA belum tentu menjanjikan KEBAHAGIAAN...
Tetapi ketika kita mampu dan mau MENERIMA semua KEKURANGAN & KELEBIHAN...
Itulah KEBAHAGIAAN.
Bahagia itu dari dalam diri. Kesannya zahir rupanya maknawi. Terpendam bagai permata di dasar hati. Bahagia itu ada pada hati kita. Bertahta di kerajaan diri. Terbenam bagai mutiara di lautan nurani.
Bagahia itu ada di jiwa. Mahkota di singgasana rasa. Bahagia itu adalah suatu ketenangan.
Bila susah tiada gelisah. Bila miskin syukur pada Tuhan. Bila sakit tiada resah di jiwa.
Bukankah Tuhan telah berfirman. Ketahuilah dengan mengingati Allah. Jiwa kan menjadi tenang.
Kebahagiaan itu suatu kesyukuran. Bila kaya jadi insan pemurah. Bila berkuasa amanah. Bila berjaya tidak alpa. Bila sehat tidak lupakan Tuhan.
Hakikatnya bahagia itu. Adalah ketenangan. Bila hati mengingati Tuhan.
Semua insan kan mengerti. Maksud terseni Ilahi. Itulah zikir yang hakiki.
Sumber : liaa.blog.uns.ac.id
Kamis, 06 Desember 2012
Tanda-Tanda Hati Yang Mati Serta Obatnya
Persepsi tentang mati memang berbeda pada setiap orang. Ada yang merasa sudah mati ketika kehilangan kekasihnya. Ada yang merasa mati ketika ludes harta bendanya. Dan, ada yang menganggap hidupnya tak berarti saat dirundung kegagalan dan kedukaan akibat musibah.
Mati bukan hanya seseorang telh mengembuskan napas terakhir, matanya terpejam, detak jantung terhenti, dan jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati secara biologis.
Kematiannya masih bermanfaat karena menjadi pelajaran bagi yang hidup. Rasulullah bersabda,
"Cukuplah kematian menjadi pelajaran, dan cukuplah keyakinan sebagai kekayaan." (At-Thabrani dari Ammar RA)
Alangkah banyak manusia sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi yang hidup, yakni masjid atau madrasah yang mereka bangun, buku yang mereka tulis, anak saleh yang ditinggalkan, dan ilmu bermanfaat yang telah diajarkan. Mereka mati jasad, tapi pahala terus hidup (QS.2 Al-Baqarah : 154)
::::::::::
Sesungguhnya yang perlu diwaspadai adalah mati hakiki, yakni matinya hati pada orang yang masih hidup. Tak ada yang bisa diharapkan dari manusia yang hatinya telah mati.
Boleh jadi dia hanya menambah jumlah bilangan penduduk dalam sensus. Hanya ikut membuat macet jalanan dan mengurangi jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau merugikan orang lain.
Bagaimana halnya dengan koruptor, orang yang merusak, dan menebar kejahatan di muka bumi?
Tanda manusia yang hatinya telah mati, kurang berinteraksi dengan kebaikan, kurang kasih sayang kepada orang lain, mendahulukan dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran, menuruti syahwat, lalai, dan senang berbuat maksiat.
::::::::::
3 hal yang bila kita tinggalkan akan menyebabkan kematian hati
Pertama,
MENINGGALKAN SHALAT, itu akan membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam perbuatan keji, terseret ke lembah kemungkaran dan kesesatan (QS.29 Al-Ankabut : 45) dan (QS.19 Maryam : 59), dan bisa menyusahkan serta merugikan orang lain.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab [Al Qur'an] dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar.
Dan sesungguhnya mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain]. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.29 Al-Ankabut : 45)
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti [yang jelek] yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS.19 Maryam : 59)
Kedua,
MENINGGALKAN SEDEKAH, Itu berarti kita egois, individualis, dan enggan berbuat baik. Kepedulian sosial seperti sedekah adalah bukti keimanan.
Orang yang suka bersedekah hatinya lapang dan dijauhkan dari penyakit, khususnya kekikiran, sedangkan para dermawan selalu menebar kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan surga.
Ketiga,
MENINGGALKAN ZIKRULLAH, adalah awal kematian hati. Hatinya akan membatu sehingga tak bisa menerima nasihat dan ajaran agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan hati (QS.13 Ar- Ra'd : 28). Orang yang tenang hatinya akan berperilaku positif dan tak mau berbuat jahat.
Mukmin yang selalu shalat, senang bersedekah, dan memperbanyak zikrullah akan menjadi orang yang paling baik, memiliki hati yang hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila kita merasa rajin shalat, sedekah, dan zikir, tetapi hatinya mati, kemungkinan besar shalat, sedekah, dan zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa.
::::::::::
Sesungguhnya hati yang telah mati, mengeras, adalah hati yang tidak bisa memahami, dan mengambil nasehat-nasehat yang disampaikan kepadanya, yang berasal dari Al Qur'an maupun As-Sunnah, yakni hadits Rosulullah Shallallahu'alayhi Wa Sallam.
Hatinya tidak tergerak sedikitpun. Ya karena Allah telah mengunci hatinya disebabkan dosa-dosa yang terus-menerus dia perbuat di muka bumi ini. Allah Ta'ala berfirman :
Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus (QS. Al-Qiyaamah : 75)
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS. Al Muthoffifin : 14)
Rosulullah bersabda :
"Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititik kan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan.
Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan "Ar-Raan" yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), 'Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka'."
Mujahid berkata:
"Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari jemari."
Bukanlah disebabkan mereka itu tuli, dan bukan pula disebabkan oleh penglihatan yang rusak. Akan tetapi Ar-Raan telah menutupi hati, sehingga dia tidak mampu lagi memahami syari'at-syari'at Allah.
Allah Ta'ala berfirman :
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al-Hajj : 46)
Akan tetapi kebutaan itu, kebutaan mata hati, sekalipun penglihatan luar biasa tajamnya, akan tetapi yang demikian itu tidak mampu untuk mengambil sebuah pelajaran, dan tidak mampu mengetahui apa yang terkandung di dalam Al Qur'an dan As-Sunnah. Wallahul musta'an
Alangkah indahnya apa yang dikatakan seorang ahli syi'ir Muhammad 'Abdullah bin Muhammad bin Hayyan al-Andalusi
Hai manusia yang mendengarkan seruan kecelakaan. Telah memanggilmu dua tanda kematian; Uban dan Kerentaan.
Jika engkau tak mau mendengar peringatan, apa saja yang engkau lihat dari kepalamu yang mempunyai dua pancaindera, Pendengaran dan Penglihatan.
Ibnu Abid Dun-ya berkata, Sebagian ahli hikmah berkata:
Hidupkanlah hatimu dengan berbagai nasehat,
Sinarilah dengan tafakkur,
Matikanlah dengan zuhud,
Kuatkanlah dengan keyakinan,
Hinakanlah dengan kematian,
Tetapkanlah dengan fana,
Pandanglah bencana dunia,
Waspadalah dengan permainan masa,
Berhati-hatilah dengan perubahan hari,
Tampilkanlah kepadanya kisah-kisah orang terdahulu,
Berjalanlah pada negeri-negeri peninggalan mereka,
Serta lihatlah apa yang mereka lakukan,
Dimana mereka berada dan karena apa mereka berubah.
Yaitu telitilah apa yang menimpa ummat-ummat yang mendustakan, berupa bencana dan kehancuran.
Saudaraku, hendaklah kita muhasabah diri, lihatlah diri kita, bagaimana kondisi kita ketika disampaikan ayat dan hadits kepada kita, apakah kita merasakan sesuatu yang bermanfaat darinya, ataukah kita tidak mampu merasakan apa-apa?
::::::::::
TANDA-TANDA HATI YANG MATI
"Tarkush Sholah" Berani meninggalkan Sholat Fardhu,
"Adzdzanbu bil farhi" Tenang tanpa merasa berdosa padahal melalukan dosa besar.
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran [daripadanya]. (QS.7 Al-Araf : 3)
"Karhul Qur'an" Tidak mau membaca bahkan menjauhi dengan ayat-ayat Al Qur'an.
"Hubbul ma'asyi" Terus menerus melakukan maksiat,
"Asikhru" Sibuknya hanya mempergunjing, buruk sangka, merasa dirinya lebih suci,
"Qolbul ulamai" Sangat benci dengan nasehat baik dan ulama,
"Himmathul bathni" Gilanya pada dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya,
"Anaaniyyun" sama sekali masa bodoh keadaan orang lain, saudara bahkan bisa jadi
keluarganya sekalipun menderita,
"Al intiqoom" Pendendam hebat,
"Albukhlu" sangat pelit,
"Ghodhbaanun" cepat marah karena keangkuhan dan dengki.
::::::::::
HIDUPKAN HATI DENGAN
Banyak dzikir,
Banyak baca kisah para shalihin terdahulu,
Kisah ibadah keshalihan bagaimana Islam diterapkan di zaman kenabian, para sahabat tabiin,
Merenung kejadian dalam kehidupan yang merupakan tanda keberadaan Allah SWT yang mutlah berada di atas semuanya,
Banyak nyebut "Laa ilaaha ilallah"
Akrab dengan ilmu,
Penyampai ilmu Risalah Agama yang mulia ini,
Perbanyak do'a
Dekat dengan orang shalih dan lingkungan shalih bukan lingkungan salah, atau lingkungan maksiat,
::::::::::
Semoga Allah melindungi dan merahmati Usaha Kita
Wallahua'lam BisShowaab
Sumber : margono.wordpress.com
Mati bukan hanya seseorang telh mengembuskan napas terakhir, matanya terpejam, detak jantung terhenti, dan jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati secara biologis.
Kematiannya masih bermanfaat karena menjadi pelajaran bagi yang hidup. Rasulullah bersabda,
"Cukuplah kematian menjadi pelajaran, dan cukuplah keyakinan sebagai kekayaan." (At-Thabrani dari Ammar RA)
Alangkah banyak manusia sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi yang hidup, yakni masjid atau madrasah yang mereka bangun, buku yang mereka tulis, anak saleh yang ditinggalkan, dan ilmu bermanfaat yang telah diajarkan. Mereka mati jasad, tapi pahala terus hidup (QS.2 Al-Baqarah : 154)
::::::::::
Sesungguhnya yang perlu diwaspadai adalah mati hakiki, yakni matinya hati pada orang yang masih hidup. Tak ada yang bisa diharapkan dari manusia yang hatinya telah mati.
Boleh jadi dia hanya menambah jumlah bilangan penduduk dalam sensus. Hanya ikut membuat macet jalanan dan mengurangi jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau merugikan orang lain.
Bagaimana halnya dengan koruptor, orang yang merusak, dan menebar kejahatan di muka bumi?
Tanda manusia yang hatinya telah mati, kurang berinteraksi dengan kebaikan, kurang kasih sayang kepada orang lain, mendahulukan dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran, menuruti syahwat, lalai, dan senang berbuat maksiat.
::::::::::
3 hal yang bila kita tinggalkan akan menyebabkan kematian hati
Pertama,
MENINGGALKAN SHALAT, itu akan membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam perbuatan keji, terseret ke lembah kemungkaran dan kesesatan (QS.29 Al-Ankabut : 45) dan (QS.19 Maryam : 59), dan bisa menyusahkan serta merugikan orang lain.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab [Al Qur'an] dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar.
Dan sesungguhnya mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain]. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.29 Al-Ankabut : 45)
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti [yang jelek] yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS.19 Maryam : 59)
Kedua,
MENINGGALKAN SEDEKAH, Itu berarti kita egois, individualis, dan enggan berbuat baik. Kepedulian sosial seperti sedekah adalah bukti keimanan.
Orang yang suka bersedekah hatinya lapang dan dijauhkan dari penyakit, khususnya kekikiran, sedangkan para dermawan selalu menebar kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan surga.
Ketiga,
MENINGGALKAN ZIKRULLAH, adalah awal kematian hati. Hatinya akan membatu sehingga tak bisa menerima nasihat dan ajaran agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan hati (QS.13 Ar- Ra'd : 28). Orang yang tenang hatinya akan berperilaku positif dan tak mau berbuat jahat.
Mukmin yang selalu shalat, senang bersedekah, dan memperbanyak zikrullah akan menjadi orang yang paling baik, memiliki hati yang hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila kita merasa rajin shalat, sedekah, dan zikir, tetapi hatinya mati, kemungkinan besar shalat, sedekah, dan zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa.
::::::::::
Sesungguhnya hati yang telah mati, mengeras, adalah hati yang tidak bisa memahami, dan mengambil nasehat-nasehat yang disampaikan kepadanya, yang berasal dari Al Qur'an maupun As-Sunnah, yakni hadits Rosulullah Shallallahu'alayhi Wa Sallam.
Hatinya tidak tergerak sedikitpun. Ya karena Allah telah mengunci hatinya disebabkan dosa-dosa yang terus-menerus dia perbuat di muka bumi ini. Allah Ta'ala berfirman :
Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus (QS. Al-Qiyaamah : 75)
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS. Al Muthoffifin : 14)
Rosulullah bersabda :
"Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititik kan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan.
Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan "Ar-Raan" yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), 'Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka'."
Mujahid berkata:
"Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari jemari."
Bukanlah disebabkan mereka itu tuli, dan bukan pula disebabkan oleh penglihatan yang rusak. Akan tetapi Ar-Raan telah menutupi hati, sehingga dia tidak mampu lagi memahami syari'at-syari'at Allah.
Allah Ta'ala berfirman :
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al-Hajj : 46)
Akan tetapi kebutaan itu, kebutaan mata hati, sekalipun penglihatan luar biasa tajamnya, akan tetapi yang demikian itu tidak mampu untuk mengambil sebuah pelajaran, dan tidak mampu mengetahui apa yang terkandung di dalam Al Qur'an dan As-Sunnah. Wallahul musta'an
Alangkah indahnya apa yang dikatakan seorang ahli syi'ir Muhammad 'Abdullah bin Muhammad bin Hayyan al-Andalusi
Hai manusia yang mendengarkan seruan kecelakaan. Telah memanggilmu dua tanda kematian; Uban dan Kerentaan.
Jika engkau tak mau mendengar peringatan, apa saja yang engkau lihat dari kepalamu yang mempunyai dua pancaindera, Pendengaran dan Penglihatan.
Ibnu Abid Dun-ya berkata, Sebagian ahli hikmah berkata:
Hidupkanlah hatimu dengan berbagai nasehat,
Sinarilah dengan tafakkur,
Matikanlah dengan zuhud,
Kuatkanlah dengan keyakinan,
Hinakanlah dengan kematian,
Tetapkanlah dengan fana,
Pandanglah bencana dunia,
Waspadalah dengan permainan masa,
Berhati-hatilah dengan perubahan hari,
Tampilkanlah kepadanya kisah-kisah orang terdahulu,
Berjalanlah pada negeri-negeri peninggalan mereka,
Serta lihatlah apa yang mereka lakukan,
Dimana mereka berada dan karena apa mereka berubah.
Yaitu telitilah apa yang menimpa ummat-ummat yang mendustakan, berupa bencana dan kehancuran.
Saudaraku, hendaklah kita muhasabah diri, lihatlah diri kita, bagaimana kondisi kita ketika disampaikan ayat dan hadits kepada kita, apakah kita merasakan sesuatu yang bermanfaat darinya, ataukah kita tidak mampu merasakan apa-apa?
::::::::::
TANDA-TANDA HATI YANG MATI
"Tarkush Sholah" Berani meninggalkan Sholat Fardhu,
"Adzdzanbu bil farhi" Tenang tanpa merasa berdosa padahal melalukan dosa besar.
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran [daripadanya]. (QS.7 Al-Araf : 3)
"Karhul Qur'an" Tidak mau membaca bahkan menjauhi dengan ayat-ayat Al Qur'an.
"Hubbul ma'asyi" Terus menerus melakukan maksiat,
"Asikhru" Sibuknya hanya mempergunjing, buruk sangka, merasa dirinya lebih suci,
"Qolbul ulamai" Sangat benci dengan nasehat baik dan ulama,
"Himmathul bathni" Gilanya pada dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya,
"Anaaniyyun" sama sekali masa bodoh keadaan orang lain, saudara bahkan bisa jadi
keluarganya sekalipun menderita,
"Al intiqoom" Pendendam hebat,
"Albukhlu" sangat pelit,
"Ghodhbaanun" cepat marah karena keangkuhan dan dengki.
::::::::::
HIDUPKAN HATI DENGAN
Banyak dzikir,
Banyak baca kisah para shalihin terdahulu,
Kisah ibadah keshalihan bagaimana Islam diterapkan di zaman kenabian, para sahabat tabiin,
Merenung kejadian dalam kehidupan yang merupakan tanda keberadaan Allah SWT yang mutlah berada di atas semuanya,
Banyak nyebut "Laa ilaaha ilallah"
Akrab dengan ilmu,
Penyampai ilmu Risalah Agama yang mulia ini,
Perbanyak do'a
Dekat dengan orang shalih dan lingkungan shalih bukan lingkungan salah, atau lingkungan maksiat,
::::::::::
Semoga Allah melindungi dan merahmati Usaha Kita
Wallahua'lam BisShowaab
Sumber : margono.wordpress.com
Jumat, 30 November 2012
Hati Hati Membawa Hati
Hati ada 3 jenis : Hati hidup, hati mati dan hati yang sakit. Hati yang hidup, hati yang sehat yaitu hatinya orang-orang yang beriman. Hati yang mati adalah hatinya orang-orang kafir. Adapun hati yang sakit hatinya orang muslim yang banyak maksiat.
Hati yang sehat ialah hati yang bersih dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah Allah. Bebas dari syubhat yang bertentangan dengan arahan Allah. Mencintai Allah dan Rasul, mentaati, tunduk dan patuh. Bertawakkal kepada Allah dan mengutamakan mencari keridhoan Allah.
Hati yang mati, tiada kehidupan di dalamnya. Tidak mengenal Allah, tidak beribadah kepada-Nya, tidak peduli pada ridho atau murka-Nya demi menuruti hawa nafsu. Mencintai atau membenci bukan karena Allah tapi karena nafsunya. Hawa nafsulah pemimpinnya, syahwat komandannya, kebodohan sopirnya dan kelalaian adalah kendaraannya.
Hati yang sakit, yaitu hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit. Kadang ia hidup dan kadang pula berpenyakit, tergantung ketahanan hatinya.
Keadaan hati yang pertama tersebut putih dan memancarkan cahaya keimanan. Jika dihadapkan dengan fitnah maka ia menolaknya. Itulah hati murni yang di dalamnya terdapat pelita yang menyala, yaitu hati orang-orang mukmin.
Keadaan hati yang kedua juga disebut hati yang tertutup dalam kemasan hitam yaitu hati orang-orang kafir. Atau juga disebut hati yang terbali yaitu hati orang-orang munafik. Keadaan hati yang ketiga bisa menimpa orang-orang muslim yang kurang waspada dalam menjaga kesehatan dan kebersihan hatinya sehingga mudah dihinggapi penyakit. Jika semakin parah bisa mati ataupun terbalik.
Hati Sehat Dan Ciri-Cirinya :
1. Menerima kebenaran, selalu mengajak dirinya untuk mengetahui yang haq dan ittiba'
kepadanya.
2. Cinta kepada al-Haq dan lapang dada terhadap Islam. Ia senantiasa merindukan
untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah (berkhidmat), seperti rindunya
seseorang kepada orang yang dicintainya.
3. Selalu menyambut seruan iman dan cinta kepada hal-hal yang menambah
kekuatan iman. Jika ia tertinggal wiridnya dari Al Qur'an atau Dzikrullah atau tidak
melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT, maka ia merasa gelisah dan kecewa
melebihi gelisahnya orang yang kehilangan hartanya.
4. Memiliki keyakinan yang kokoh yang tidak diguncangkan keraguan. Hatinya lembut
dalam menghadapi peringatan Allah. Cita-citanya hanya satu, yaitu bagaimana agar
bisa selalu taat kepada Allah SWT.
5. Bila sedang melakukan shalat, maka sirnalah semua kegundahannya pada
kenikmatan dunia yang semu. Di dalam shalat telah ia temukan kenikmatan
dan kesejukan jiwa yang suci.
6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakannya dari Dzikrullah,
melebihi rasa khawatirnya seseorang yang kehilangan hartanya.
7. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas atas suatu amal perbuatan
daripada kuantitasnya. Ia lebih condong pada keikhlasan dalam beramal, mengikuti
petunjuk syari'at Rasulullah SAW. dan ihsan beribadah.
8. Condong ke akhirat sebagai tempat yang abadi dan menghindarkan diri dari dunia
yang menipu dan mempersiapkan diri untuk kematiannya sebelum ia mati, seakan-
akan dia telah meninggalkan dunia ini dan menetap di kampung akhirat sehingga ia
rasakan di dunia ini sebagai orang asing yang singgah sebentar untuk mengambil
keperluannya lalu kembali ke kampung akhiratnya.
Sumber : nurisfm.blogspot.com
10 Tanda Hati Mati
Hati adalah milik Allah SWT, kematian hati adalah satu perkara yang menakutkan bagi insan yang bergerak mencari keredhaan Allah SWT dalam kehidupannya. Setiap kita tidak sadar kadang kala hati kita mati.
Terdapat 10 tanda hati mati. Antaranya adalah :
1. Kita mengaku kenal dan cinta Allah, tapi tidak menunaikan hak-Nya
2. Kita mengaku cinta Rasulullah tetapi mengabaikan sunnahNya
3. Kita membaca Al Qur'an tapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya
4. Kita memakan nikmat Allah, tapi tidak mensyukuri pemberianNya
5. Kita mengaku musuh syaitan, tetapi mengikutiya
6. Kita mengakui nikmat surga tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya
7. Kita mengaku adanya siksa Neraka, tetapi tidak berusaha menjauhinya
8. Kita mengakui bahwa kematian akan datang pada setiap jiwa, tetapi tidak berusaha
mempersiapkan bekalnya
9. Kita sibuk membuka aib orang lain, tapi tidak pernah ingat akan aib diri
10. Kita menghantar dan menguburkan jenazah tetapi tidak mengambil hikmah darinya
Ini antara 10 tanda hati kita mati. Oleh yang demikian, jangan kita biarkan hati kita terus mati.
Sumber : mysuara.net
Terdapat 10 tanda hati mati. Antaranya adalah :
1. Kita mengaku kenal dan cinta Allah, tapi tidak menunaikan hak-Nya
2. Kita mengaku cinta Rasulullah tetapi mengabaikan sunnahNya
3. Kita membaca Al Qur'an tapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya
4. Kita memakan nikmat Allah, tapi tidak mensyukuri pemberianNya
5. Kita mengaku musuh syaitan, tetapi mengikutiya
6. Kita mengakui nikmat surga tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya
7. Kita mengaku adanya siksa Neraka, tetapi tidak berusaha menjauhinya
8. Kita mengakui bahwa kematian akan datang pada setiap jiwa, tetapi tidak berusaha
mempersiapkan bekalnya
9. Kita sibuk membuka aib orang lain, tapi tidak pernah ingat akan aib diri
10. Kita menghantar dan menguburkan jenazah tetapi tidak mengambil hikmah darinya
Ini antara 10 tanda hati kita mati. Oleh yang demikian, jangan kita biarkan hati kita terus mati.
Sumber : mysuara.net
Langganan:
Postingan (Atom)








